Eks Wartawan Kompas: Dukungan Dunia terhadap Negara Palestina Kian Kuat, Israel Semakin Tertekan

WOWBEKASI.ID – Pengamat Timur Tengah sekaligus mantan wartawan Harian Kompas untuk desk Timur Tengah, Musthafa Abdul Rahman menilai dukungan internasional terhadap berdirinya negara Palestina semakin menguat dan sulit dibendung. Menurutnya, cepat atau lambat Palestina akan memperoleh pengakuan yang lebih luas, baik di tingkat global maupun regional.

Hal tersebut disampaikan Musthafa dalam Diskusi Serikat Jurnalis Islam Indonesia yang digelar di Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (19/6/2026). Diskusi tersebut dipandu Ketua SAJID, Bachtiar Nasir dan dihadiri para jurnalis Muslim dari berbagai media.

Dalam paparannya, Musthafa menyoroti dinamika geopolitik Timur Tengah pascaperang yang menurutnya akan sangat ditentukan oleh pertarungan pengaruh antara Iran, Turki, dan Israel sebagai kekuatan utama di kawasan.

Menurut dia, jika dalam lima tahun ke depan Iran mampu memperkuat ekonomi, teknologi, dan kapasitas strategisnya hingga dapat menyaingi Israel dan Turki, maka negara tersebut berpotensi menjadi faktor penting yang mendorong implementasi berbagai resolusi internasional terkait Palestina.

“Kalau Iran sukses membangun ekonominya, teknologinya, dan mampu bersaing dengan Israel dan Turki, maka akan muncul kekuatan baru yang bisa memaksa Israel menerima resolusi-resolusi internasional tersebut,” ujarnya.

Musthafa merujuk pada sejumlah resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), termasuk Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 242 dan Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 338 yang menuntut penarikan Israel dari wilayah-wilayah Arab yang diduduki sejak Perang Enam Hari tahun 1967.

Dukungan Eropa terhadap Palestina Menguat

Menurut Musthafa, posisi Israel saat ini semakin menghadapi tekanan di tingkat internasional. Ia menilai sejumlah negara Barat yang selama ini dikenal dekat dengan Israel mulai menunjukkan dukungan yang lebih terbuka terhadap perjuangan Palestina.

“Secara internasional Israel sudah terpojok. Dukungan terhadap negara Palestina sangat kuat, terutama di Eropa. Palestina kini telah diakui oleh banyak negara besar dunia. Tinggal menunggu bagaimana pertarungan di tingkat regional setelah perang ini,” katanya.

Ia juga berharap proses diplomasi yang saat ini berlangsung antara Amerika Serikat dan Iran dapat menghasilkan kesepakatan yang berkelanjutan. Menurutnya, stabilitas kawasan akan membuka peluang lahirnya “Iran baru” yang lebih kuat dalam bidang ekonomi, teknologi, dan pengaruh regional.

Musthafa menilai perubahan peta kekuatan di Timur Tengah akan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan masa depan konflik Palestina-Israel dalam beberapa tahun mendatang.

Berbagi Pengalaman Hampir 20 Tahun Bersama Kompas

Dalam kesempatan yang sama, Musthafa turut berbagi pengalaman selama hampir tiga dekade berkecimpung di dunia jurnalistik internasional, khususnya saat bertugas meliput kawasan Timur Tengah untuk Harian Kompas.

Ia mengungkapkan bahwa pendiri Kompas, Jakob Oetama, sejak awal memiliki visi agar Kompas memiliki wartawan tetap di Timur Tengah sehingga informasi yang disajikan kepada pembaca diperoleh langsung dari sumber utama dan tidak hanya mengandalkan kantor berita internasional.

“Saya bersyukur pernah diberi kesempatan hampir 20 tahun bersama Kompas dan ikut mewarnai pemberitaan internasional, khususnya Timur Tengah,” ujarnya.

Menurut Musthafa, keberadaan wartawan langsung di lapangan sangat penting untuk memberikan perspektif yang lebih mendalam dan berimbang terhadap berbagai konflik yang terjadi di kawasan tersebut.

Hegemoni Media Barat Mulai Bergeser

Selain membahas geopolitik, Musthafa juga menyoroti perubahan lanskap media global yang menurutnya mulai mengalami pergeseran signifikan.

Ia menilai dominasi media Barat dalam pemberitaan internasional mulai berkurang sejak hadirnya Al Jazeera yang berbasis di Qatar.

Sebelum kemunculan Al Jazeera, pemberitaan internasional banyak didominasi media-media Barat seperti CNN dan BBC. Namun Al Jazeera berhasil menghadirkan perspektif alternatif yang mendapat perhatian luas dari masyarakat dunia, terutama di kawasan Timur Tengah.

“Hegemoni media Barat terhadap pemberitaan internasional mulai berakhir setelah munculnya Al Jazeera. Pengaruhnya luar biasa dan menjadi sumber informasi utama bagi masyarakat Timur Tengah,” katanya.

Musthafa menilai media-media dunia Islam perlu terus diperkuat agar mampu menghadirkan perspektif yang lebih berimbang dalam pemberitaan internasional dan tidak selalu bergantung pada narasi yang dibangun media Barat.

Penting Memahami Cara Berpikir Israel

Sebagai wartawan yang lama bertugas di Timur Tengah, Musthafa mengaku rutin mengikuti berbagai media Israel untuk memahami perkembangan politik dan opini publik di negara tersebut.

Beberapa media yang kerap ia baca antara lain Haaretz, The Jerusalem Post, dan Yedioth Ahronoth.

Menurutnya, memahami cara berpikir dan dinamika politik Israel merupakan bagian penting dalam menyusun strategi diplomasi, politik, maupun media yang efektif.

“Saya membaca media Israel hampir setiap hari. Mereka sangat cepat dan profesional dalam pemberitaan. Kita harus memahami bagaimana mereka berpikir dan bagaimana lanskap politik mereka bekerja,” ujarnya.

Musthafa juga mencontohkan kebijakan Presiden Mesir Anwar Sadat pasca-Perang Arab-Israel 1973 yang mendorong pembelajaran bahasa Ibrani di berbagai universitas Mesir.

Menurutnya, langkah tersebut dilakukan agar masyarakat dan para akademisi Mesir dapat memahami Israel secara lebih mendalam.

“Sadat pernah mengatakan, ‘Kenalilah musuhmu’. Karena itu berbagai universitas di Mesir membuka program studi bahasa Ibrani agar masyarakat dan para ahli memahami Israel secara lebih baik,” katanya.

Ia menegaskan bahwa pemahaman mendalam terhadap pihak lain merupakan bagian penting dalam membangun strategi yang efektif, baik dalam diplomasi, politik, maupun pemberitaan internasional.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *