Skip to content
Menu
Gaya Hidup

Perjuangan Hamidah Melawan Patriarki

Perjuangan Hamidah Melawan Patriarki

Oleh: Eka Ariyanti Winanda

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Sastra Indonesia pra-kemerdekaan kerap kali didominasi oleh sudut pandang pengarang laki-laki. Namun, pada tahun 1935, sebuah gebrakan lahir lewat penerbit Balai Pustaka. Seorang perempuan muda berusia 19 tahun bernama Fatimah Hasan Delais menggunakan nama pena Hamidah menerbitkan novel bertajuk Kehilangan Mestika. Jauh sebelum diskursus kesetaraan gender marak dibicarakan secara modern, novel ini telah merekam suara lantang seorang perempuan yang menolak takluk di bawah bayang-bayang budaya patriarki.

Melalui tokoh utama yang juga bernama Hamidah, novel ini bukan sekadar roman picisan tentang patah hati. Ini adalah manifesto perlawanan terhadap belenggu tradisi yang menempatkan perempuan di posisi subordinat.

Meruntuhkan Tembok Pingitan: Melawan Pembatasan Ruang Gerak

Pada masa itu, adat masyarakat lokal menuntut anak perempuan yang mulai beranjak dewasa untuk menjalani tradisi pingitan. Perempuan dipaksa berdiam diri di dalam rumah, mengurus domestik, dan dilarang berinteraksi dengan dunia luar hingga ada laki-laki yang datang meminang.

Hamidah dengan tegas menolak normalisasi ini. Baginya, pingitan adalah bentuk pembungkaman potensi perempuan. Karakter Hamidah digambarkan sebagai sosok yang mendobrak aturan tersebut. Ia menolak menjadi “barang simpanan” dan memilih keluar rumah untuk mengejar cita-citanya. Perlawanan fisik dan mental terhadap tradisi pingitan ini menjadi langkah awal Hamidah dalam merebut kembali hak atas tubuh dan otoritas hidupnya sendiri.

Pendidikan sebagai Senjata Emansipasi

Bagi struktur sosial patriarki kala itu, pendidikan tinggi bagi perempuan dianggap sebagai hal yang sia-sia karena ujung-ujungnya perempuan akan kembali ke dapur. Namun, Hamidah melihat pendidikan dari lensa yang berbeda: sebagai alat pembebasan.

Hamidah berjuang keras menempuh pendidikan demi membuktikan bahwa perempuan mampu berpikir kritis dan mandiri secara finansial. Tidak berhenti pada dirinya sendiri, Hamidah kemudian mendirikan perkumpulan dan sekolah perempuan di kota kelahirannya. Di sekolah tersebut, ia mengajarkan kaumnya membaca, menulis, berhitung, hingga keterampilan organisasi. Lewat jalur literasi dan edukasi inilah, Hamidah mencoba memutus rantai kebodohan struktural yang sengaja dipelihara untuk menjaga perempuan tetap tunduk pada kendali laki-laki.

Manipulasi Pernikahan dan Kehilangan ‘Mestika’ Kehidupan

Puncak benturan antara agensi individu Hamidah dengan kuatnya sistem patriarki terjadi di ranah domestik: pernikahan. Meskipun Hamidah digambarkan sebagai perempuan progresif, ia tidak serta-merta menang mutlak melawan sistem.

Kisah cintanya dimanipulasi oleh pihak keluarga yang patriarkal. Ia dipisahkan dari pria pilihan hatinya melalui skenario penyembunyian surat-surat cinta, dan dipaksa menikah dengan lelaki lain pilihan keluarga. Pernikahan paksa ini membawa Hamidah pada penderitaan batin, tekanan psikis, bahkan dominasi toksik dari sang suami. Judul Kehilangan Mestika sendiri menjadi kiasan mendalam bagaimana Hamidah kehilangan hak menentukan nasibnya sendiri, kehilangan orang-orang yang dicintainya, dan kehilangan kebahagiaannya akibat ego kultural masyarakat sekitar.

Mengapa Perjuangan Hamidah Tetap Relevan Hari Ini?

Meskipun novel ini berakhir dengan banyak kemalangan yang menimpa sang tokoh utama, Hamidah tidak digambarkan sebagai korban yang pasrah tanpa daya. Setelah mengalami perceraian dan berbagai badai kehidupan, ia memilih bangkit dan kembali mendedikasikan hidupnya untuk dunia pendidikan.

Kehilangan Mestika memberikan pelajaran penting bagi pembaca modern bahwa perjuangan melawan patriarki bukanlah jalan yang instan dan selalu berakhir manis. Novel ini merefleksikan bahwa patriarki sering kali menggunakan institusi keluarga dan adat untuk mendisiplinkan perempuan. Semangat Hamidah yang menolak menyerah pada keadaan mengajarkan perempuan lintas generasi untuk terus menyuarakan haknya, sekecil apa pun celah yang dimiliki.

Related Articles

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Get the newsletter

The day’s top stories, once a day.